Minggu, 07 April 2019

Manfaat Komoditi Kehutanan Kemenyan (Syrax Spp.)


Tugas Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                                      Medan,   April 2019
MANFAAT EKONOMI KOMODITI KEHUTANAN
KEMENYAN (Syrax Spp.)
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.P., M.P.
Oleh :
M. Ikhwan
171201096
Hut 4B
                                                                                     

















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018





Taxonomi dan Penyebaran
Taxonomi Pohon Kemenyan Taxonomi pohon Kemenyan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Klas : Magnoliopsida
Subklas : Dilleniidae
Ordo : Ebenales
Famili : Styracaceae
Ordo Ebeneles memiliki 12 genus dan terdiri lebih dari 190 jenis yang menyebar mulai dari benua Asia, Mediterania hingga Amerika Utara – Selatan. Genus Kemenyan memiliki jumlah lebih dari 20 jenis. Jumlah spesies Kemenyan bervariasi menurut beberapa pakar, yakni 5 spesies (Putz & NG, 1954), 7 spesies (van Steenis, 1953; van de Koppel, 1959), 3 jenis (Heyne, 1987) dan 20 spesies (Pinyopusarerk, 1994). Van Steenis (1953) menyebutkan bahwa secara umum hanya 4 jenis yang dibudidayakan dan bernilai ekonomi yaitu:Toba (Styrax paralleloneurum PERK), Durame (Styrax benzoine DRYAND), Bulu (Styrax benzoine var. hiliferum) dan Siam (Styrax tonkinennsis). Umumnya masyarakat di Tapanuli dan Dairi, Propinsi Sumatera Utara hanya membudidayakan jenis Toba dan Durame secara luas sedangkan jenis Bulu kurang banyak dibudidayakan. Jenis Kemenyan Siam hingga 10.
 Taxonomi dan Penyebaran saat ini belum banyak dikembangkan di Indonesia, namun telah dirintis penguasaan budidayanya oleh Balai Penelitian Kehutanan Sumatera (BPK Pematanag Siantar). Heyne (1987) mendiskripsikan Kemenyan Toba (haminjon Toba, kumayan putih) menjadi Styrax sumatrana J.J.SM (namun penamaan ini sering diartikan sebagai semua jenis - jenis Kemenyan yang berasal dari Pulau Sumatera) sedangkan van Steenis (1953) dan van de Koppel (1959) menyebutnya dengan Styrax paralleloneurum PERK atau sering disebut Styrax paralleloneurus.

Morfologi Pohon Kemenyan
Pohon Kemenyan termasuk pohon besar, tinggi dapat mencapai 20 - 40m dan diameter batang mencapai 60 – 100 cm. Batang lurus dengan percabangan sedikit. Kulit beralur tidak terlalu dalam (3 - 7 mm) dengan warna kulit merah anggur. 2.2.2 Daun Kemenyan berdaun tunggal dan tersusun secara spiral. Daun berbentuk oval bulat, bulat memanjang (ellips) dengan dasar daun bulat dengan ujung runcing. Sebelah atas daun berwarna hijau dan sebelah bawah berwarna kekuning-kuningan dengan pinggiran daun rata. Panjang daun mencapai 4 - 15 cm, lebar daun 5 - 7,5 cm, tangkai daun 5 – 13 cm, helai daun mempunyai nervi 7 - 13 pasang. Warna daun jenis Toba lebih gelap kecoklatan dan lebih tebal dibandingkan jenis Durame dan Bulu. Mengenal Pohon Kemenyan (Styrax spp.) Jenis dengan Spektrum Pemanfaatan Luas yang Belum Dioptimalkan.
Bunga Kemenyan berkelamin dua, dengan tangkai bunga memiliki panjang 6-11 cm. Daun mahkota bunga 9 - 12 helai berukuran 2 - 3 mm, kelopak dan mahkota bunga masing-masing 5 buah. Kemenyan berbunga secara teratur 1 kali setiap tahun. Waktu berbunga pada bulan November sampai Januari. Daun dan bunga (a), dan Spiral Kemenyan Toba. Buah dan biji Buah Kemenyan berbentuk bulat gepeng dan lonjong berukuran 2,5 - 3 cm. Biji berukuran 15 - 19 mm, dengan warna coklat keputihan. Biji Kemenyan terdapat di dalam buah dengan kulit buah berukuran 1,75 mm – 3,1 mm. Biji Kemenyan Toba berwarna coklat tua dan lebih gelap 12. Taxonomi dan Penyebaran dibandingkan jenis Durame dan Bulu.
Habitat dan Penyebaran Burkil (1935) menjelaskan bahwa pohon Kemenyan berasal dari pantai barat Sumatera, tumbuh secara alami dan telah banyak dibudidayakan. Van Steenis (1953) menambahkan bahwa pohon Kemenyan banyak ditemukan di hutan alam, hidup berkelompok dan bercampur dengan tanaman lain. Pohon Kemenyan menyebar pada berbagai negara meliputi Malaysia, Thailand, Indonesia dan Laos. Indonesia memiliki daerah sebaran pohon Kemenyan di Pulau Sumatera, Pulau Jawa bagian Barat dan Kalimantan Barat. Sumatera memiliki sebaran terluas, terutama daerah Tapanuli dan Dairi. Diperkirakan hampir 67% dari luas kebun Kemenyan yang ada di Indonesia terdapat di daerah Tapanuli Utara. Pohon Kemenyan menyebar pada berbagai elevasi (60 m – 2100 m dpl). Di daerah Palembang (Sumatera Selatan) dan Tapanuli Selatan, pohon Kemenyan banyak ditemukan pada daerah dengan ketinggian 60 - 320 m dpl. Sentra kebun Kemenyan di Tapanuli Utara yang dikenal secara luas rata-rata berada pada ketinggian lebih dari 600 m dpl. Pohon Kemenyan tidak memerlukan persyaratan yang istimewa.
Heyne (1987) menjelaskan pohon Kemenyan mampu tumbuh pada tanah-tanah tinggi yang berpasir, maupun tanah lempung rendah di hutan alam. Mampu tumbuh pada Andosol, Podsolik, Latosol, Regosol, dan berbagai asosiasi mulai tanah bertekstur berat sampai ringan, serta tanah yang subur hingga kurang subur, tanah berpasir hingga tanah lempung rendah di hutan alam, namun secara umum pohon Kemenyan menghendaki tanah yang memiliki kesuburan yang baik. Pohon Kemenyan tidak tahan terhadap genangan air, sehingga untuk pertumbuhannya membutuhkan tanah yang porositasnya tinggi (mudah meneruskan/meresapkan air). Tumbuh baik pada solum tanah yang dalam dengan pH tanah berkisar 14. Taxonomi dan Penyebaran 4 - 7, menghendaki bulan basah yang tersebar merata sepanjang tahun dengan tipe curah hujan A-B (Schmidt & Fergusson).
Kemenyan Toba (Styrax paralleloneurum PERK) Kemenyan Toba merupakan jenis yang paling banyak dibudidayakan di daerah Tapanuli dan Dairi. Jenis ini tumbuh dan menyebar pada ketinggian >600 m dpl di sentra produksi Kemenyan di Tapanuli Utara. Penampilan daun jenis Toba terkesan lebih gelap dan mengkilat dibandingkan jenis Durame dan Bulu. Getah yang dihasilkan memiliki aroma balsamat tajam, warna putihkuning kecoklatan deng an ukuran butiran getah panjang 3 - 7 cm dan lebar 1,5 - 2,5 cm. Pada perdagangan lokal harga getah Kemenyan Toba (Gambar 6) dikenal paling tinggi dibandingkan jenis lainnya. Tipe perkecambahan benih Kemenyan Toba dan pertumbuhan tanaman di lapangan relatif lebih lambat dibandingkan jenis Durame dan Bulu. Usia matang sadap jenis ini umumnya lebih dari 5 tahun, tergantung perkembangan diameter batang tanaman. Kemenyan Durame (Styrax benzoine Dryand) Kemenyan Durame merupakan jenis kedua yang paling banyak dibudidayakan di Daerah Tapanuli. Jenis ini tumbuh dan menyebar pada ketinggian mulai dari >60 m dpl di daerah Sumatera Selatan dan Tapanuli Selatan, sedangkan di sentra produksi Kemenyan Tapanuli Utara banyak ditemukan pada ketinggian >600 m dpl. Umumnya Kemenyan Durame dibudidayakan secara campuran dengan jenis Toba dan Bulu. Penampilan daun jenis Durame terkesan lebih terang warnanya dibandingkan jenis Toba. Getah yang dihasilkan memiliki aroma balsamat agak tajam, warna putih-kuning kecoklatan dengan ukuran butiran getah panjang 3 - 5 cm dan lebar 1 - 1,5 cm. Pada perdagangan lokal harga getah Kemenyan Durame relatif lebih rendah dibandingkan jenis Toba dan sering digunakan hanya sebagai getah pencampur di kilang Kemenyan. Tipe perkecambahan benih Kemenyan Durame dan pertumbuhan tanaman di lapangan relatif lebih cepat dibandingkan jenis Toba. Usia matang sadap jenis ini umumnya dimulai pada umur 5 tahun dengan ukuran diameter batang tanaman mencapai >10 cm.
Kemenyan Bulu (Styrax benzoine var hiliferum) Kemenyan Bulu merupakan jenis yang kurang banyak dikenal, hal ini disebabkan oleh jumlah populasinya yang relatif sedikit. Jenis ini secara alam banyak ditemukan di hutan alam Sibatuloteng-Simalungun.  Taxonomi dan Penyebaran cukup banyak dibudidayakan di daerah Pahae dan Sarulla, Kabupaten Tapanuli Utara. Namun di salah satu daerah sentra Kemenyan - Dolok sanggul, jenis ini jarang atau sulit ditemukan. Penyebaran dan penampilan Kemenyan Bulu memiliki kesamaan dengan jenis Durame. Getah yang dihasilkan memiliki aroma balsamat kurang tajam, warna putih-kuning kecoklatan dengan ukuran butiran getah panjang 3 - 5 cm dan lebar 1,0 - 1,5 cm. Pada perdagangan lokal harga getah Kemenyan Bulu relatif lebih rendah dibandingkan jenis lainnya dan bersama getah Durame sering hanya digunakan sebagai bahan pencampur dalam pengolahan getah. Umumnya getah Kemenyan Bulu lebih cair dan tampak meleleh di permukaan batang hingga jatuh di atas lantai kebun (Gambar 8). Pemanenan getahnya dilakukan dengan memungut getah di sekitar batang berupa gumpalan getah yang sering tercampur daun, ranting dan serasah lainnya.
Tipe perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman Kemenyan Bulu di lapangan relatif lebih cepat dibandingkan jenis Toba namun memiliki kesamaan dengan jenis Durame. Usia matang sadap jenis ini umumnya dimulai umur 5 tahun pada saat diameter batang tanaman mencapai >10 cm. 2.4.4 Kemenyan Laos (Styrax tonkineensis Pierre) Kemenyan Laos umumnya tumbuh pada elevasi 800 - 1600 meter di atas permukaan laut. Jenis ini dikelompokkan sebagai tanaman cepat Gambar 8. Getah yang ada di Pohon Induk Kemenyan Bulu Mengenal Pohon Kemenyan (Styrax spp.) Jenis dengan Spektrum Pemanfaatan Luas yang Belum Dioptimalkan.
Di Negara Laos, penyebaran utama terdapat pada Propinsi Phongsali, Louang Namtha, Oudomaxai, Louang Phabang dan Houa Phan (Pinyopusarerk, 1994). Pengembangan budidaya Kemenyan Laos di negara Laos hingga saat ini telah mencapai lebih dari 50.000 Ha, dengan kerapatan 1600 – 3300 pohon per hektar. Penyadapan dimulai pada umur 5 tahun dengan rata-rata produksi mencapai 1 - 3 kg/pohon/tahun (Pinyopusarerk, 1994). Warna getah kuning-kecoklatan hingga kemerahan dengan aroma balsamat lembut atau aroma fanili, besar butiran getah memiliki panjang 2,5 – 3,5 dan lebar 1,5 – 1,9 cm. Umumnya pada umur 8 tahun ditebang (di-replanting) dan kayunya dimanfaatkan untuk bahan baku kertas (chips).

Sejarah Perdagangan dan Budidaya Kemenyan
 Sangat sulit menelusuri kapan pertama kali getah Kemenyan digunakan atau diperdagangkan. Sebagai indikasi awal dapat dibahas melalui keberadaan tanaman MIRRH dari famili Burceraceae yang habitat penyebarannya di daerah Afrika Utara hingga Timur Tengah. Getah MIRRH sering digunakan secara bersama-sama dengan getah Kemenyan untuk ramuan dupa dan obat-obatan di Negara Timur Tengah seperti Mesir, Arab dan negara Persia (Irak dan Iran). Proses pengawetan Mayat (Mummi), banyak menggunakan bahan alamiah seperti ramuan tumbuhtumbuhan dan ini sering dianalogikan atau dikaitkan dengan peran “Asam benzoat” yang saat ini banyak digunakan untuk bahan pengawet makanan dan minuman (USD, 1926). Catatan lain juga menyebutkan bahwa Negara India telah memperdagangkan getah Kemenyan ini lebih kurang satu abad sebelum Masehi. Perkembangan perdagangan getah Kemenyan dan budidaya pohon Kemenyan semakin meningkatkan seiring berfungsinya pelabuhan pantai Barat Sumatera seperti Barus, meskipun tidak tercatat kapan dimulainya penggunaan pintu gerbang menuju Tapanuli (Batak Land) tersebut. Budidaya pohon Kemenyan di daerah Tapanuli, propinsi Sumatera Utara dikenal sudah cukup lama yaitu diperkirakan dimulai akhir tahun 1800-an yang berawal di daerah Nai Pospos dan Silindung. Pembuatan kebun pohon Kemenyan diawali dengan menanam tebu dan ubi jalar, selanjutnya menanam padi dan bibit pohon Kemenyan. Pada waktu panen padi pohon muda Kemenyan sudah mulai tumbuh yang selanjutnya dipelihara dengan hanya membersihkan semak-semak di sekitarnya. Pohon Kemenyan setelah berumur 5 – 6 tahun sudah mulai disadap untuk diambil getahnya.

 Prospek dan Perkembangan Budidaya Pohon Kemenyan
Tanaman Kemenyan merupakan sumber kehidupan serta prestise sosial suatu keluarga yang diukur dengan seberapa luas kebun Kemenyan yang dimiliki suatu keluarga dan bahkan telah menjadi bagian gerak hidup petani Kemenyan di Daerah Tapanuli. Pohon Kemenyan memiliki nilai ekonomi penting, hal ini dapat dilihat dari luas kebun Kemenyan yang terdapat di beberapa daerah di Sumatera Utara, utamanya daerah Tapanuli. Data Statistik (2002) menunjukkan bahwa Tapanuli Utara memiliki luas kebun Kemenyan seluas 22.670 ha dengan produksi 321,3 kg/ha/tahun dengan produksi total mencapai 4.247 ton/tahun. Data BPS Sumatera Utara (2008) luas kebun Kemenyan terluas terletak di Kabupaten Tapanuli Utara (16.359 Ha) dan Kab. Humbahas (9.594 Ha). Pengusahaan kebun Kemenyan tersebut sedikitnya telah melibatkan 60.209 KK (214.000 jiwa) dari jumlah penduduk Tapanuli Utara 705.432.
Getah Kemenyan yang dihasilkan pohon marga Styracaceae dikelompokkan sebagai hasil hutan bukan kayu. Permintaan dan kebutuhan getah Kemenyan hingga saat ini masih terus mengalir dan ini tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat petani Kemenyan di Tapanuli Utara khususnya serta memiliki nilai ekonomi yang akan terus diberdayakan sebagai salah satu primadona tanaman perkebunan potensial penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Getah Kemenyan sangat sedikit dikonsumsi langsung di Sumatera Utara, konsumennya berada di luar sentra Kemenyan antara lain Propinsi Jawa Tengah (Purworejo, Kebumen, Banyumas, Cilacap, Probolinggo dan Magelang), Jawa Timur (Bojonegoro, Temanggung dan Wonosobo), daerah-daerah transmigrasi dan luar negeri (ekspor). Penggunaan Kemenyan di beberapa daerah tersebut utamanya untuk rokok siong, klembak dan bahan dupa. Negara tujuan ekspor Kemenyan yang utama adalah Singapura, Swis, Jepang, Malaysia, Uni Emiart Arab (UAE), Taiwan, Perancis dan sebagainya. Singapura lebih berperan sebagai negara “transit” sebelum mengalir ke negara tujuan. Rata-rata ekspor Kemenyan melalui pintu Pelabuhan Belawan-Medan diperkirakan mencapai 690,411 ton per tahun. Nilai uang hasil ekspor Kemenyan sangat bervariasi dengan Singapure, Taiwan, UEA dan Malysia memperoleh nilai US $ 2 hingga US $ 5 per kilogram, namun Perancis lebih tinggi hingga US $ 23,9 Kg.
Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh belum bakunya standar mutu dan harga dasar getah Kemenyan serta berpotensi merugikan negara dan petani Kemenyan sendiri, namun menguntungkan bagi pedagang. Pembenahan aspek tersebut dan perbaikan tataniaga getah Kemenyan sangat penting dilakukan. Keunikan yang dimiliki pohon Kemenyan belum sepenuhnya ditangani secara optimal, hal ini ditunjukkan oleh konsentrasi pengusahaan yang masih tradisionil dan sangat mengandalkan produk getah mentah. Peluang pemanfaatan kayunya yang cukup menjanjikan dan upaya diversifikasi produk di tingkat petani untuk meningkatkan nilai tambah belum banyak dilakukan. Potensi yang belum dimanfaatkan tersebut harus terus diberdayakan guna meningkatkan penghasilan petani Kemenyan dan diharapkan bermuara pada peningkatan kesejahteraannya. Ditengah gencarnya era perdagangan bebas, dinamika ekspor getah Kemenyan juga mengalami fluktuasi, namun demikian eksistensi perdagangan getah Kemenyan tersebut masih terus berlangsung dan kebun-kebun Kemenyan yang tersebar cukup luas di Tapanuli dan Dairi masih tetap bertahan.
Eksistensi keberadaan kebun Kemenyan dari waktu kewaktu selama berabad-abad menjadi fenomena menarik dalam percaturan upaya pengelolaan sumberdaya alam yang lestari yang hingga saat ini masih disibukkan mencari format ideal. Pengembangan budidaya pohon Kemenyan di luar daerah sentra Kemenyan tentunya perlu dipertimbangkan, baik dalam bentuk hutan rakyat, hutan kemasyarakatan dan pola perkebunan intercropping. Manfaat Pemanfaatan hasil utama budidaya pohon Kemenyan adalah (a) produksi getah Kemenyan, (b) produksi kayu dan (c) pemanfaatan untuk tujuan lain. Umumnya pemanfaatan getah Kemenyan dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1.3.1 Tradisonal (konvensional) Tradisi religi masih sering menggunakan getah Kemenyan, terutama pada upacara – upacara untuk mendapatkan aroma dupa yang baik. Di pulau Jawa sering dicampur dengan kayu cendana pada saat pembakarannya. Ditimur Tengah penggunaan getah Kemenyan sebagai dupa yang sempurna dengan mencampur dengan getah Murh (minyak). Penggunaan getah untuk bahan pencampur pada tembakau rokok, sampai saat ini masih dilakukan, karena masih banyak yang berpendapat Kemenyan mampu memperbaiki pernafasan, namun seiring perkembangan waktu penggunaan campuran untuk tembakau rokok sudah semakin banyak ditinggalkan.
Modern Khan (2001) menyebutkan kandungan getah Kemenyan antara lain terdiri dari:
1. Asam Sinamat (C6H5CH-CHOOH)
2. Asam benzoat
3. Styrol
4. Vanillin (C8H8O3)
5. Styracin
6. Coniferil benzoate
7. Coniferil sinamate
8. Resin benzoeresinol dan suma resinotannol
Asam Sinamat adalah bahan penolong pada pembuatan berbagai bahan kimia pada pembuatan obat-obatan (pharmasi), parfum, kosmetik, makanan dan minuman. Simanungkalit (1993) & Khan (2001) menjelaskan deskripsi yang lebih luas dari pemanfaatan asam sinamat sebagai berikut:  
Bidang farmasi
Adapun yang terkandung didalamnya adalah 1. Antiseptic 2. Expectorant (pelega pernafasan) 3. Obat Mata untuk Katarak 4. Unsur perantara pada pembuatan obat antibiotik Streptomycin 1.3.2.2 Pengawet makanan dan minuman sebagai “food additive” yaitu bahan tambahan untuk makan dan minuman terutama untuk pengawetan. Menurut FDA (Food and Drugs of America) dan EDA (Europe Drugs Association), jumlah asam sinamat alami yang dibutuhkan untuk setiap kilogram/liter makanan atau minuman untuk pengawetan sebanyak 1,25 mg (BoDD, 2004). Sedangkan SII (Standar Industri Indonesia) menetapkan penggunaan asam benzoat atau natrium benzoat sejumlah 250 mg/kg/liter (Deperin, 1987).
Parfum
Penggunaan utamanya sebagai “fix active” yaitu berfungsi menahan aroma pada parfume agar tahan lebih lama serta sebagai “fix agent” yaitu berfungsi mempertemukan dua atau beberapa jenis parfume dari bahan yang berbeda untuk mendapatkan aroma parfume yang lebih baik. Melalui proses esterifikasi asam sinamat dipergunakan untuk membentuk ester-ester seperti methyl dan ethyl serta berbagai derivat (turunan) yang banyak digunakan untuk kebutuhan obat-obatan pertanian.
Kosmetik
Penggunaan asam sinamat untuk kosmetik sudah lama dikenal, karena bahan tersebut bermanfaat sebagai pelindung kulit terhadap sinar matahari dan juga karena memiliki sifat astrigent, sehingga dapat mengeluarkan kotoran-kotoran yang terdapat pada kulit (wajah). Negara Perancis telah menghasilkan parfume dengan patent bernama “Lait Virginal” yang artinya mempertahankan kemudaan. Unsur Kemenyan yang sangat bermanfaat untuk ini disebut isobutyl salicynil cinnamate yang merupakan turunan dari asam sinamat. Bahan ini juga telah banyak dipatenkan sebagi “Sun Screening Agent” dengan daya tahan terhadap cahaya matahari (ultra violet rays) pada kisaran 2800-3150 A° (Arythermal range).
Vernis
Percobaan pemanfaatan getah Kemenyan untuk varnish telah dilakukan oleh Balai Litbang Industri Medan (1983) yang menunjukkan bahwa vernis yang dapat dibuat adalah jenis “spirit varnish”. yaitu dengan mengunakan pelarut yang mudah menguap (thinner atau spirtus). Sedangkan penggunaan terpentin sebagai pelarut ternyata getah Kemenyan tidak mudah larut. Bahan baku yang digunakan adalah kualitas Kemenyan abu yang harganya di pasaran relatif murah. Komposisi pelarut yang baik adalah 25% karena menghasilkan vernis yang cukup baik.
Lilin
Pembuatan lilin dengan campuran getah Kemenyan telah banyak dicoba, utamanya menghasilkan asap lilin yang beraroma khas. Lilin dengan karakter tersebut dianggap cukup sesuai untuk kegiatan religi.
Pemanfaatan
kayu Kemenyan Pemanfaatan kayu pohon Kemenyan umumnya banyak digunakan untuk pembuatan papan rumah. Peluang pemanfaatan kayu pohon Kemenyan cukup prospektif karena memiliki karakteristik yang baik. Peluang pemanfatan kayu pohon Kemenyan sadapan sangat prospektif utamanya untuk furniture dan konstruksi. Khusus untuk bahan furniture akan menghasilkan produk cukup bernilai tinggi karena corak kayunya cukup bagus dengan warna merah kecoklatan, selain itu pada proses finishing kayu tersebut tidak banyak menyerap bahan finishing yang secara ekonomi menguntungkan.
Pemanfaatan keragaman fenotipik dan genetik Keragaman fenotipik di jenis Kemenyan sudah banyak diketahui tetapi informasi genetic spesies Kemenyan masih sangat terbatas. Identifikasi keragaman fenotipik (keragaman buah dan biji Kemenyan) sudah dipublikasikan ( Jayusman 1997c dan Jayusman et.al, 2004), identifikasi keragaman fenotipik Kemenyan ( Jayusman, 2006c), keragaman genetik Kemenyan ( Jayusman, 2002; Jayusman dan Asmono, 2003; Jayusman, 2006a). Beberapa penelitian terkait sifat getah dan kayu Kemenyan juga telah dilakukan (Waluyo et.al, 1996; dan Waluyo, 2006).
Hingga saat ini potensi keragaman fenotipik dan genetik yang dimiliki Kemenyan (Styrax spp) sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan untuk peningkatan produksi dan kualitas getah, sehingga keberadaan sebuah strategi breeding (pemuliaan) spesies Kemenyan sangat mendesak di susun untuk mendukung pengembangan jenis Kemenyan secara luas. 1.3.5 Pemanfaatan lain Pohon Kemenyan berpotensi digunakan untuk pohon ornamen, sekat bakar, tanaman penghijauan dan reboisasi, penghara industri pulp serta untuk tujuan rehabilitasi lahan.





DAFTAR PUSTAKA : 
Jayusman. 2014. Mengenal Pohon Kemenyan (Styrax Spp) Jenis Dengan Spektrum Pemanfaatan Luas Yang Belum Dioptimalkan. Bogor. IPB Press Printing.
Daniel. E. 2012. Analisis Probabilitas Dan Tataniaga Kemenyan didesa Sampean Kabupaten Humbang husundutan Sumatera Utara. Dapertemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.